Sabtu, Februari 21, 2009

KOPI NIKMAT, TANPA REHAT?

Sekali nyoba...anda mesti ketagihan....!
Itu bukan slogan sebuah iklan rokok atau bir.. atau bahkan iklan McD dan sebangsanya..
Inilah yang kurasakan saat diajak nongkrong di Helsinski sebuah kedai kopi disamping masjid Baiturrahman NAD menjelang maghrib 4 hari yang lalu... Lebih tepatnya bukan kedai tetapi sebuah "restoran minum" .. karena sekilas untuk menggambarkan sebuah kedai kopi kayak di Jawa sini kelihatannya nggak tepat... apalagi jika dibandingkan dengan "warung hik" alias "sego kucing" khas dari Klaten... wah sangat jauh berbeda!

Seperti di Helsinski maupun kedai kopi di NAD lainnya, rata-rata menempati areal yang luas (bisa sampai 300-an m2)dengan jumlah kursi ratusan buah !! Dengan disain kursi plastik berkaki rendah selaras dengan posisi meja yang juga rendahnya menjadi sebuah pemandangan yang amat menarik dan lebih menakjubkan lagi ...hampir tak ada yang kosong!Lautan manusia "penggila kopi" akan tumpah ruah disetiap sudut ruang bahkan luber di pelatarannya..

Sebuah fenomena yang sudah jamak buat penduduk aseli sana untuk menunaikan hajat minum kopinya secara rutin sehari bisa 2-3 kali! Siklusnya dimulai saat pagi menyingsing hingga sekitar jam 9-10 an...Siang hari kata pak Jumali (sopir kantor yang aseli Aceh) terkadang juga dilakukan hajat yang sama seiring jam makan siang. Dan puncaknya adalah maghrib sampai malam hari....masya Allah ...full-house rek !!

Komunitas inipun tidak mengenal usia ... tapi yang sore-malam biasanya penuh dengan remaja/anak muda ..cowok-cewek membaur sedemikan meriahnya ...silih berganti datang dan pergi seperti air mengalir yang tak kunjung habis...
Kebetulan saat saya dan rombongan datang bukan pas malam minggu ... benar hari itu hari malam kamis.... tetapi saja ramai pengunjung! bisa dibayangkan gimana jadinya kalau malam minggu!!

Setelah mendapat tempat kosong di pelataran, segera kupesan secangkir black coffe ...dan teman lain pesan "sanger" (kopi susu), namun yang menarik .. sang pelayan dengan simpatik minta kami bersabar karena saat itu pas menjelang adzan maghrib sehingga semua kegiatan harus berhenti termasuk melayani kami... mereka tutup sementara untuk shalat maghrib.. suasana yang terasa langka & hampir tak pernah dijumpai di daerah lainnya... Aku jadi tercenung "pantas saja NAD sering disebut Serambi Mekah"

Bergegas aku ikut shalat di mushola kecil di belakang kedai, setelah rampung kebetulan kedainya juga telah dibuka lagi, nah akhirnya kesampaian juga saat yang aku tunggu buat merasakan racikan kopi aseli Aceh yang kesohor itu...
Dengan cekatan seorang pelayan membawa baki berisi 6 cangkir kopi & sanger, setelah dihidangkan di meja tanpa ba bi bu langsung kuhirup ...hmmm wangi dan lezat langsung menembus saraf di lidahku.. memang beda! jauh lebih nikmat dibandingkan nescafe...kapal api atau tugu luwak yang sering dibuatkan oleh isteri dirumah..
Bisa jadi sensasi inilah yang memang takkan bisa tergantikan sehingga penduduk sinipun seperti selalu "ketagihan" .. Tapi benarkah itu??

Aku sendiri tak habis pikir mengapa penduduk dari segala lapisan begitu "enjoy"-nya menikmati kopi dalam segala suasana dan hampir sepanjang hari bahkan bisa 3 kali ...(seperti minum obat saja?). Lebih aneh lagi menurut pengalaman temen2 ternyata model advokasi yang paling jitu manakala sulit menghadap pejabat daerah akan jauh lebih efektif dan "bersahabat" apabila memakai jurus "suap kopi"? yang ternyata selain murah..meriah ..tetapi terbukti cespleng!

Sedemikian fenomenalnya ... makna & fungsi dari hajat minum kopi nikmat yang kayaknya hampir tanpa rehat.... bukan cuma karena semata ingin memuaskan hasrat..bahkan terkadang sampai dengan membicarakan urusan negara dan rakyat.... semuanya bisa diputuskan secara cepat dan penuh mufakat....hanya dengan... sekali lagi hanya dengan menghirup segelas kopi hangat!!

1 komentar:

  1. Dulu sering ke Banda Aceh. Termasuk tempat favoritku. Kalo pagi ya gitu. Sarapan di pinggir jalan. Lepas magrib ngopi-ngopi di warung kopi juga. Biasanya aku dapet oleh-oleh kopi Aceh. Bungkusnya kuning, merknya lupa. Kalau minum itu bisa gak bisa tidur seharian. Takengon juga indah. Masih inget ke Takengon naik bis malem dari B. Aceh. Sampai di sana jam tiga pagi. Gak ada kendaraan buat ke hotel. Akhirnya numpang sepeda gerobak. Pake ndorong pula di tanjakan.

    BalasHapus